Naomi Osaka, Bintang Tennis Dunia, Terapkan Konsep Self-disclosure Hadapi Tantangan Mental

ikom.fish.unesa.ac.id―Dalam dunia olahraga profesional yang kompetitif, atlet seringkali terjebak dalam mempertahankan citra sempurna di hadapan publik. Namun, untuk membangun koneksi yang lebih dalam dengan para pendukung mauoun penggemar, pemahaman akan Teori Penetrasi Sosial dan konsep self-disclosure menjadi hal yang fundamental, seperti yang ditunjukkan oleh kasus Naomi Osaka, salah satu atlet tenis asal Jepang.
Teori Penetrasi Sosial, yang dikemukakan oleh Irwin Altman dan Dalmas Taylor pada tahun 1973, menjelaskan bahwa hubungan interpersonal berkembang secara bertahap, mulai dari lapisan permukaan hingga ke lapisan yang lebih dalam. Tahapan-tahapan ini meliputi tahap orientasi, tahap eksplorasi afektif, tahap afektif, tahap pertukaran stabil, dan tahap pertukaran intim.
Salah satu konsep inti dalam Teori Penetrasi Sosial adalah self-disclosure, yaitu proses pengungkapan informasi, pikiran, dan perasaan pribadi kepada orang lain. Semakin dalam tingkat self-disclosure, maka semakin dalam pula hubungan yang terjalin antarpersonal.
Pada tahun 2021, Naomi Osaka, salah satu bintang tenis dunia, membuat keputusan yang mengejutkan. Osaka, yang dikenal dengan permainan tenis yang tangguh dan kepribadian yang ceria, tiba-tiba mengungkapkan bahwa ia sedang berjuang dengan masalah kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan. Melalui unggahan di media sosial, Osaka membuka diri tentang tekanan yang dihadapinya sebagai atlet profesional.
Tindakan Osaka ini merupakan contoh nyata penerapan konsep self-disclosure dalam Teori Penetrasi Sosial. Sebelumnya, Osaka hanya menampilkan sisi profesionalnya di mata publik (tahap orientasi). Namun, dengan keberanian mengungkapkan masalah pribadinya, Osaka akhirnya telah memasuki tahap pertukaran intim, yakni mulai membangun koneksi yang lebih dalam dengan para penggemar dan pendukungnya.
Respons positif yang diterima Osaka menunjukkan bahwa self-disclosure yang dilakukan dengan bijak dapat memberikan manfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Pengungkapan masalah kesehatan mental Osaka ternyata mendapat dukungan luas, bahkan mampu mendorong adanya diskusi yang lebih terbuka mengenai isu kesehatan mental dalam dunia olahraga.
Melalui kasus Naomi Osaka, kita dapat melihat bagaimana Teori Penetrasi Sosial dan konsep self-disclosure dapat diterapkan dalam konteks olahraga profesional. Keterbukaan Osaka telah membantu membangun hubungan yang lebih erat dengan para penggemarnya, sekaligus mendorong perubahan yang lebih positif dalam memperlakukan kesehatan mental atlet.
Sebagai atlet global yang dikenal karena prestasinya di lapangan, Naomi Osaka telah mengambil langkah berani untuk membuka diri dan berbagi kisah perjuangannya. Tindakan ini bukan hanya mengubah persepsi publik terhadap dirinya, melainkan juga dapat menjadi inspirasi bagi atlet lain untuk lebih terbuka dalam menghadapi tantangan mental.
Dengan memahami Teori Penetrasi Sosial, kita dapat melihat bahwa hubungan yang lebih dalam dan bermakna tidak hanya terbatas pada lingkup pribadi, tetapi juga dapat terjalin antara atlet dan penggemar mereka. Keterbukaan Osaka telah membantunya membangun koneksi yang lebih erat dengan para pendukung, serta menciptakan dampak yang lebih besar bagi olahraga dan masyarakat secara keseluruhan.
Referensi:
Griffin, E. 2011. A First Look at Communication Theory (8th Edition)
***
Author: Saharani (PR Apprentice)
Editor: astr, 2024
Cover: Nora (PR Apprentice)
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA