Pasar Genteng yang Eksentrik di Tengah Modernisasi

ikom.fisipol.unesa.ac.id,
SURABAYA - Pasar menjadi salah satu tempat yang tak pernah lekang dimakan oleh
zaman. Bagaimana tidak, setiap harinya ada ratusan bahkan ribuan orang
berkumpul, dan mencari bahan untuk diolah ataupun uang untuk menyambung
kehidupannya. Hal tersebut juga kerap terjadi di salah satu pasar tertua dan
terbesar di Surabaya, yaitu Pasar Genteng.
Berdiri sejak tahun 1972 berdiri luas bangunan 7.043 M2. Kondisi bangunan pasar tradisional ini masih cukup baik. Lantai satu adalah untuk pedagang buah dan kebutuhan rumah tangga, dan lantai dua untuk pedagang komponen elektronik. Jam operasional pasar tertulis pada pukul 06.00 WIB - 10.00 WIB, namun nyatanya pasar ini buka hampir 24 jam nonstop.

Keunikan pertama dari
pasar ini adalah terletak di jantung Kota Surabaya yaitu di antara Jalan
Genteng dan Jalan Tunjungan. Posisi yang strategis membuat pasar ini selalu
ramai setiap harinya, ada lebih dari 800 orang datang sebagai wisatawan atau
orang sekitar.
Keunikan kedua, berbeda
dengan pasar-pasar yang kita kenal. Pasar Genteng bukan hanya menjual
sayur-sayuran, ikan-ikanan, atau sembako saja. Melainkan juga ada alat
elektronik, baju dan aksesoris, oleh-oleh khas Surabaya seperti Toko 67, Toko
Bhek, Toko Sudi Mampir, hingga aneka kuliner. Keanekaragaman jenis yang
di jual di sini membuat para pembeli memiliki banyak pilihan dan tujuan untuk
ke pasar ini.
Para pembeli juga harus
mampu mengerti jam operasional toko-toko tertentu sesuai dengan apa yang di
jual. Sayur dan buah-buahan misalnya, mereka hanya berjualan di pagi hari. Toko
elektronik yang mulai beroperasi di siang hingga sore hari, kuliner serta
oleh-oleh khas Surabaya yang hampir sepanjang hari kecuali tanggal merah atau
hari minggu.
Walikota Surabaya, Eri
Cahyadi, juga membuat semacam bazar atau jajanan kuliner pada malam hari di
sekitar pasar dengan lampu hias yang membuatnya semakin menarik, membuat pasar
ini ramai akan pengunjung.
Pasar ini memiliki
berbagai macam barang jual, tentunya pasar ini memiliki keragaman yang luas.
Seperti barang yang dijual di sini, para pedagangnya pun sangat beragam. Mulai
dari golongan Chinese yang sudah belasan tahun jualan di sini. Ada juga
orang Madura yang rumahnya dekat dengan pasar menjual sayur-sayuran setiap
harinya dan tentunya ada orang dari suku Jawa yang asli dari Surabaya.
Meskipun begitu, mereka
mengatakan bahwa tidak pernah ada masalah terkait komunikasi satu sama lain.
"Kita selalu saling menghargai dan menghormati sih mas, mau itu suku apa,
agamanya apa. Kita sama-sama berjualan di sini setiap harinya," tutur
salah satu penjual elektronik di pasar tersebut.
Dapat disimpulkan, bahwa
perbedaan yang ada pada diri kita dengan orang lain tidak seharusnya membuat
kita susah ataupun bahkan menimbulkan konflik sesama manusia.
***
Author : Yan Roswana (Ilmu Komunikasi
2023)
Editor : dsz, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA