Perempuan vs Media: Sebuah Analisis dari Bingkai Teori Kelompok Bungkam (Muted Group Theory)

ikom.fish.unesa.ac.id―Runtuhnya orde baru digantikan oleh reformasi menandai era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kian masif di Indonesia. Arus informasi melalui media yang semula dikendalikan penuh oleh hierarki perlahan mulai menemukan sendiri jalan untuk bertumbuh. Topik-topik yang dibatasi di antara banyaknya persoalan dalam negeri kini mulai bervariasi. Ditambah dengan hadirnya internet yang merambah ke media sosial semakin membawa pengaruh signifikan terhadap pemberitaan di Indonesia.
Media sosial mampu menggeser posisi media konvensional sebagai saksi atas pesatnya perkembangan arus informasi. Kini media sosial memiliki ruang khusus di benak masyarakat mengenai berbagai isu populer di seluruh dunia. Kecepatan dan kepraktisan menjadi salah satu alasan mengapa media sosial mampu mengubah konstruksi sosial masyarakat dari yang semula berskala lokal dan terbatas berubah menjadi global dan terhubung secara luas.
Dari banyaknya perubahan yang terjadi dalam konstruksi masyarakat melalui perkembangan media terdapat satu hal yang masih terjebak dalam stigma sebagai buntut dari tekanan dan tuntutan oleh lingkungan sekitarnya. Isu mengenai kesetaraan perempuan menjadi salah satu isu yang perkembangannya kurang signifikan dibanding dengan isu lainnya. Ketidakadilan yang diterima perempuan selayaknya telah mendarah daging dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. Tidak dianggap, sering diremehkan, direndahkan, dilecehkan, dan tidak dihargai hak-haknya merupakan makanan sehari-hari yang diterima oleh perempuan sehingga tak ayal mereka dijuluki sebagai warga negara kelas dua.
Media memiliki peran yang besar dalam mengaktualisasikan dan mempresentasikan perempuan di mata khalayak. Representasi diri perempuan dikonstruksikan sedemikian rupa oleh media sehingga semakin menyudutkan kepercayaan diri dan sense untuk bisa bersuara. Hal tersebut tak luput dari banyaknya kasus kekerasan seksual yang dinilai paling merugikan bagi perempuan sekaligus juga yang paling banyak terjadi di media sosial. Candaan yang masuk dalam kategori sexiest sering terlontar dalam postingan yang menampilkan citra diri perempuan atau yang disebut “feminine energy”. Tak hanya verbal, kekerasan seksual kerap terjadi dalam kehidupan sosial melalui perantara aplikasi kencan atau sosial media lain yang lagi-lagi tidak menguntungkan bagi perempuan.
Keprihatinan mengenai perempuan tidak berhenti di situ saja, media massa pun turut andil dalam memberikan label kepada perempuan terhadap kasus kekerasan, pelecehan, pemerkosaan. Penggambaran sosok perempuan yang lemah, tidak berdaya selayaknya pantas untuk mendapat perlakuan tidak etis tersebut. Belum lagi atribut yang melekat terkait pakaian, tampilan fisik, profesi, hingga status perkawinan masih sering digunakan sebagai alat untuk menarik khalayak untuk membaca berita mereka. Hal tersebut yang kemudian semakin membuat sosok perempuan kecil di mata masyarakat sehingga membuat mereka terpaksa diam.
Hal ini berkaitan dengan Teori Kelompok Bungkam (Muted Group Theory) oleh Cheris Kramarae di mana perempuan digambarkan sebagai sosok yang emosional, apologetic (peminta maaf), dan tidak konsisten, sedangkan pernyataan sederhana dan kuat selalu terlontar dari laki laki. Menurut Kramarae, wanita sebagai kelompok subordinat tidak diberi kebebasan untuk menyuarakan apa yang ingin mereka suarakan, kapan, dan di mana karena norma-norma tersebut telah diformulasikan oleh kelompok dominan, yaitu laki-laki. Kontrol pria terhadap komunikasi mampu membungkam, menjatuhkan, dan meniadakan kepentingan wanita dalam masyarakat.
Hal tersebut kemudian selaras dengan situasi yang terjadi saat ini, ketika perempuan merasa tidak memiliki kuasa untuk menyuarakan apa yang sedang mereka alami karena masyarakat mewajarkan norma dan tingkah laku laki-laki yang merasa haus akan seksualitas. Pakaian yang terbuka, status perkawinan, profesi seseorang menjadi hal yang terus dilimpahkan ke sosok perempuan sehingga wajar bagi laki-laki ketika ia merasa tergoda dan melampiaskan hal tersebut melalui pelecehan ataupun kekerasan.
Referensi:
Sulistiani, I. (2024). REPRESENTASI DIRI PEREMPUAN, PEMBUNGKAMAN KAPASITAS DIRI PEREMPUAN, DAN LITERASI MEDIA SEBAGAI SEDIKIT FENOMENA MASALAH GENDER DAN SOLUSINYA. AN-NISA, 17(1), 1-20.
Ade Husnul Mawadah, (2018) NILAI KESETARAAN GENDER PADA CERPEN DALAM BUKU TEKS BAHASA INDO Aqila Almas Aisyi, Triyono Lukmantoro, Muhammad Bayu Widagdo NESIA SMA, LITERA Volume 17, Nomor 1, Maret 2018.
*** Author: Widiatanti (PR Apprentice)
Editor: astr, 2024
Cover: Juan (PR Apprentice)
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA