Pesona Bandar Grissee : Wisata Kuliner yang Menghidupkan Sejarah dan Keberagaman di Jantung Kota Gresik

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA - Di tengah keramaian pusat Kota Gresik, Bandar Grisse berhasil menjadi tempat harmonisasi beragam budaya dan cita rasa dengan pesonanya yang khas, layaknya kawasan Malioboro di Yogyakarta, Bandar Grisse ramai dikunjungi oleh mereka yang ingin merasakan kehangatan suasana malam yang semarak, ditemani aroma khas berbagai hidangan dari tenant-tenant makanan yang berjejer rapi di sepanjang jalan.
Lebih dari sekadar tempat ‘nongkrong’, kawasan ini menyimpan perjalanan sejarah yang panjang sejak masa perdagangan kuno pada tahun 1400-an hingga kini menjadi simbol ikonik di tengah kota dengan menyatukan berbagai budaya dan lapisan masyarakat di tengah kota Gresik.
Bandar Grisse bukanlah kawasan baru di Gresik, jejak sejarahnya telah dimulai sejak abad 1400 Masehi, menjadikannya salah satu pusat perdagangan tertua di Indonesia. Nama ‘Bandar’ diambil karena letaknya yang berdekatan dengan pelabuhan, tempat perahu-perahu dari berbagai penjuru Nusantara dan mancanegara singgah untuk berdagang.
Pada masa itu, Bandar Grissee bukan hanya sebagai titik transaksi ekonomi, melainkan juga menjadi saksi keragaman budaya yang datang dari para pedagang asing sehingga menjadikan kawasan ini sebagai saksi dari keberagaman budaya dan toleransi, dengan tiga kawasan beragam etnis : Kampung Arab, Pecinan, dan Kolonial.
Seiring berjalannya waktu, area ini terus berkembang dan bertransformasi mengikuti kemajuan kota, namun tetap mempertahankan keunikan historis yang kental. Kini, Bandar Grissee tak hanya menjadi pusat kuliner dan perkumpulan, namun masih menjadi saksi bisu beragam budaya dan cerminan identitas Kota Gresik yang kaya akan sejarah.
Malam itu, saya sebagai penulis memutuskan untuk mengunjungi Bandar Grissee, ditemani udara malam yang berhembus segar. Duduk di salah satu kursi yang tersedia di area terbuka, saya menikmati suasana yang begitu hidup.

Melihat pengunjung yang berlalu lalang dengan santai. Lampu-lampu kuning yang banyak menggantung di sepanjang jalan memberikan kesan yang hangat dan ramah, membuat siapa pun merasa betah untuk berlama lama. Anak-anak kecil berlarian di dekat saya, tertawa riang, sementara musik akustik dari salah satu sudut menambah kesan santai malam itu.
Di tengah santai menikmati suasana malam yang sangat nyaman, tiba-tiba perhatian saya teralihkan oleh suara tepuk tangan meriah. Di sana saya melihat sekelompok pelajar SMP yang bersiap di salah satu sudut kawasan untuk menampilkan tari Saman. Dengan gerakan yang kompak dan energik, mereka berhasil menarik perhatian semua pengunjung.
Penampilan yang sangat memukau dengan memadukan seni dan budaya yang kuat dengan harmoni yang apik. Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh mengiringi setiap akhir gerakan, menunjukkan betapa pengunjung sangat menikmati pertunjukan. Bagi saya, momen tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan, menambah kehangatan suasana malam di Bandar Grissee.
Di sela menikmati suasana, saya bertemu dengan Kania, seorang pelajar yang juga sedang menghabiskan waktu di Bandar Grissee. Saat itu ia duduk santai sambil menikmati segelas es teh dan camilan gorengan. “Saya suka banget ke sini karena suasananya itu beda kak. Rasanya kayak melepas penat setelah seharian sekolah hehe,” ata Kania sambil tersenyum.
Kania juga bercerita bahwa ia sering datang bersama teman dan keluarganya untuk sekadar nongkrong atau mencoba berbagai makanan yang ada. “Di sini tuh lengkap, ya. Dari makanan tradisional sampai yang kekinian atau bahasanya viral-lah semua ada. Selain itu, tempatnya juga nyaman buat ngobrol lama,” tambahnya.
Ia mengakui bahwa Bandar Grissee sudah menjadi salah satu tempat favoritnya untuk bersantai di akhir pekan. Saat malam tiba, Bandar Grissee memancarkan pesona yang berbeda. Lampu-lampu jalan yang temaram memberikan kesan hangat dan menenangkan. Tenda-tenda makanan yang berjajar kokoh dan rapi yang menawarkan berbagai pilihan makanan, mulai dari aroma dimsum yang menggoda hingga harum masakan khas dan tradisional lainnya.
Musik akustik dari pengamen lokal terdengar lembut, menambah suasana yang santai dan nyaman. Di sudut lain, para pedagang sibuk melayani pelanggan yang terus berdatangan, sambil sesekali tersenyum ramah.
Pengunjung dari berbagai usia terlihat menikmati waktu mereka, anak-anak kecil dengan riang bermain, pasangan muda yang berbagi cerita, hingga keluarga yang asyik menikmati makan malam bersama. Setiap sudut Bandar Grissee terasa hidup, namun tetap memberikan ruang untuk bersantai tanpa rasa terburu-buru.
Di sekitar Bandar Grissee juga terdapat sebuah bangunan bersejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh, yaitu Kantor Pos lawas yang diduga telah ada sejak tahun1600-an. Gedung ini bukan sekadar kantor pos biasa, melainkan bekas loji VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), kongsi dagang Hindia Timur Belanda yang menjadi salah satu aktor utama perdagangan di wilayah Nusantara.
Loji, yang berarti tempat tinggal, kantor, atau gudang, berfungsi sebagai pusat aktivitas perdagangan VOC di kota-kota seberang laut, termasuk Gresik. Lebih menarik lagi, keberadaan loji ini ternyata terkoneksi dengan bangunan dan area lain yang letaknya tidak jauh, seperti yang kini dikenal sebagai Jalan Kyai Ageng Pinatih.
Di sepanjang jalan tersebut, masih dapat ditemukan sisa-sisa bangunan kuno dan rumah khas zaman VOC yang mencerminkan arsitektur Indische Empire, gaya kolonial Belanda yang megah dan berkarakter dan setelah VOC bubar pada tahun 1799, bangunan ini dialihfungsikan menjadi kantor pos yang kemudian dikenal sebagai Kantor Pos dan Telegraf Gresik.
Keberadaannya di sekitar Bandar Grissee menambah daya tarik kawasan ini sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan pengalaman kuliner dan hiburan, tetapi juga jejak sejarah yang kaya. Lebih dari sekadar kawasan kuliner, Bandar Grissee adalah wajah dari keragaman dan dinamika Kota Gresik.
Setiap pengunjung yang datang tidak hanya menikmati berbagai hidangan lezat, tetapi juga merasakan atmosfer harmonisasi antara masa lalu dan masa kini. Bandar Grissee menunjukkan bahwa di tengah kemajuan dan modernisasi, Gresik tetap mempertahankan warisan sejarahnya.
Bagi siapa pun yang ingin melihat dan merasakan keunikan kota Gresik, Bandar Grissee adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Tempat di mana sejarah, kelezatan, dan kebersamaan berpadu dalam satu kawasan.
Bagi para pengunjung, Bandar Grissee adalah oase di tengah kesibukan kota. Suasana yang ramah, keanekaragaman tenant makanan, dan keindahan malam yang hidup menjadikan kawasan ini tidak hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Gresik.
***
Author : Listya Ayu Nur Aini (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor : Yasmin, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA