Petirtaan Jolotundo : Keajaiban Sumber Abadi di Lereng Gunung Penanggungan

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA - Di lereng Gunung Penanggungan yang berselimut kabut dan hutan yang hijau, terdapat tempat menarik yang dinamakan Petirtaan Jolotundo, Petirtaan Jolotundo menyimpan daya tarik yang memukau sekaligus misterius. Situs peninggalan bersejarah dari abad ke-10 ini merupakan sebuah pemandian yang airnya terus mengalir bersih dan tidak pernah surut meski pada saat kemarau panjang.
Bukan hanya sekadar tempat berendam, Petirtaan Jolotundo dipercaya memiliki kekuatan spiritual sehingga menjadi tujuan bagi orang yang ingin menikmati ketenangan alam maupun mencari berkah dari sumber air yang diyakini penuh energi positif. Dikelilingi keindahan alam dan dipenuhi arsitektur batu yang rumit, Petirtaan Jolotundo seakan membawa pengunjung ke perjalanan menuju masa lalu, seolah-olah kita diajak menyaksikan kejayaan peradaban kuno yang pernah menguasai tempat ini.
Petirtaan Jolotundo merupakan peninggalan sejarah dari masa kerajaan Medang (Hindu-Budha) sekitar abad ke-10 masehi. Didirikan oleh Raja Udayana dari Bali sebagai wujud cinta dan senang hati Raja Udayana dalam menyambut kelahiran anaknya yakni Prabu Airlangga.

Pada bagian dinding kanan candi terdapat relief yang bertuliskan angka ‘977 Masehi’. Lalu pada bagian dinding kiri candi terdapat relief yang bertuliskan ‘Gembeng’ yang artinya sirna atau pemakaman. Petirtaan Jolotundo memiliki beberapa kolam dengan kedalaman yang bervariasi, dipenuhi air jernih yang terus mengalir dari mata air pegunungan. Setiap kolam memiliki fungsi masing-masing, seperti kolam khusus untuk pria dan wanita yang digunakan untuk ritual pembersihan diri.
Petirtaan Jolotundo biasanya digunakan oleh umat Hindu untuk melaksanakan ibadah Melasti atau mensucikan diri sebelum hari raya Nyepi. Selain itu pada bulan Suro, penganut kepercayaan Islam Kejawen juga kerap melakukan upacara Ruwatan di Petirtaan Jolotundo, mereka juga biasanya melakukan ritual memandikan pusaka.
Air Petirtaan Jolotundo dikenal sebagai Sumber Abadi karena tidak pernah kering. Selain itu, air Jolotundo diyakini memiliki energi spiritual yang kuat sehingga banyak pengunjung yang datang dengan harapan mendapatkan berkah. Kualitas air di Petirtaan Jolotundo juga merupakan air terbaik nomor dua di dunia setelah air Zam-Zam dan telah terbukti oleh pelestarian peninggalan purbakala trowulan pada tahun 1984, lalu pada tahun 1991 oleh tim arkeologi Indonesia-Belanda, dan terakhir oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 1994.

“Jolotundo ini merupakan salah satu tempat yang memiliki nilai spiritual tinggi di Mojokerto, dan dipercaya airnya terbaik setelah air zam zam jadi saya sering kesini untuk membersihkan diri dari hal buruk. Kalau kesini wajib banget mandi, rugi kalau nggak mandi dan nggak lupa selalu membawa botol kosong untuk diisi air dari pancurannya langsung,” ujar Ana, salah satu pengunjung yang rutin berkunjung.
Selain itu, lingkungan yang asri, udara yang tanpa polusi, dan rasa damai pada hati juga merupakan alasan mengapa Anna selalu berkunjung ke Petirtaan Jolotundo. “Pokoknya kalau kesini itu hati menjadi tenang, semua pikiran berat jadi hilang seketika," katanya.
Ketika berada di Petirtaan, pengunjung disambut dengan suasana sejuk dari pegunungan serta suara gemericik air yang menenangkan. Kolam-kolam berair bening memantulkan bayangan pepohonan yang mengelilingi petirtaan. Di sisi-sisi kolam, terdapat pahatan kuno yang mengisyaratkan cerita tentang dewa-dewi Hindu-Buddha yang dipercaya menjaga kesucian tempat ini. Bunga-bunga dan dupa juga sering ditempatkan di sekitar kolam sebagai bagian dari penghormatan terhadap roh leluhur yang dianggap selalu hadir di sini.
Sebagai salah satu tempat suci di Jawa Timur, Petirtaan Jolotundo memiliki nilai budaya dan keagamaan yang tinggi, kehadiran pengunjung dari berbagai latar belakang budaya menunjukkan bagaimana tempat ini menjadi titik temu antara budaya Hindu-Buddha, Islam dan tradisi lokal. Konsep sumber air sebagai lambang kehidupan juga tampak dalam banyak budaya Asia Tenggara, yang menjadikan Petirtaan Jolotundo bukan hanya tempat ibadah, tapi juga simbol dari persatuan dan kebijaksanaan universal.
Sumber airnya yang tak pernah kering menjadi simbol keberlanjutan hidup, sementara arsitektur dan keindahannya merepresentasikan kebesaran sejarah kerajaan kuno di Indonesia. Dengan segala keindahan, misteri, dan kekayaan budaya yang dimilikinya, Petirtaan Jolotundo merupakan bagian penting dari identitas budaya Indonesia. Petirtaan Jolotundo menawarkan pelajaran berharga tentang kehidupan yang harmonis, nilai spiritual yang abadi, dan pengingat akan keindahan tradisi yang perlu dijaga.
Sebagai situs bersejarah, Jolotundo bukan hanya warisan arkeologis, tetapi juga simbol penghormatan terhadap peradaban kuno dan hubungan yang erat antara manusia, alam, dan spiritualitas yang masih relevan hingga saat ini. Keunikan dan kekayaan yang ditawarkan oleh Petirtaan Jolotundo menjadi daya tarik bagi pengunjung dari berbagai belahan dunia, menjadikannya salah satu tempat yang harus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.
***
Author: Diva Aurelia (Ilmu Komunikasi 2023)
Editor: dsz, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA