Simbol Toleransi Beragama dengan Keharmonisan Enam Tempat Ibadah di Surabaya

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA - Surabaya merupakan tempat di mana semua agama dapat melakukan ibadah dengan nyaman. Di Surabaya terdapat tempat ibadah untuk 6 agama yaitu : Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Keenam tempat ibadah ini dapat berdiri berdampingan tanpa adanya pagar batas pemisah. Hal ini membuktikan bahwa keharmonisan antaragama dapat terjalin meskipun terdapat perbedaan keyakinan.
Didirikan pada tahun 2017 yang bertempat pada Royal Residence, Wiyung, kota Surabaya keenam tempat ibadah ini dapat menjadi bukti bahwa keharmonisan dalam perbedaan keyakinan itu dapat diwujudkan. Keenam tempat ibadah ini dibangun karena keresahan dari penghuni setempat yang tidak memiliki tempat untuk beribadah.
Penghuni di sana yang notabennya memiliki berbagai keyakinan,
menginisiasi proyek pembangunan tersebut. Akhirnya pada tahun 2017 proyek
Pembangunan ke enam tempat ibadah tersebut mulai dilakukan. Pembangunan ini
dibiayai secara swadaya oleh perwakilan agama di lokasi tersebut. Pembangunan keenam
tempat ibadah tidak berjalan secara bersama sebab dana yang terkumpul
berbeda beda.
Meskipun tidak dilakukan pembangunan secara bersama-sama, proyek tersebut berhasil membangun keenam tempat ibadah secara menyeluruh. Keenam tempat ibadah tersebut kini dikenal dengan Masjid Al-Muhajirin , GKI Wiyung Royal Residence, Gereja Katolik Kapel Santo Yustinus, Vihara Buddhayana Royal Resindence, Klenteng Konghucu Delapan Kebajikan, dan Pura Sakti Raden Wijaya.
Sekarang keenam tempat ibadah tersebut memiliki namanya masing-masing dan berdiri dengan indah, dan tanpa ada pembatas antar semua tempat ibadah tersebut, sehingga dapat mencerminkan toleransi beragama yang terjadi di sana.

Ada hal menarik dalam pembangunan masjid dan gereja di tempat ini, di mana masjid identik dengan bedug serta gereja yang identik dengan lonceng di atasnya. Namun, hal itu tidak ada agar suaranya tidak mengganggu agama lain dan untuk menciptakan toleransi dalam lingkungan tersebut.
Selain itu, setiap tempat ibadah memiliki pengurus yang berbeda-beda agar
dapat mengatur jadwal dan tempat ibadah masing-masing. Namun, ada satu forum
yang berisi semua pengurus dari setiap tempat ibadah agar mereka dapat
mengatur kegiatan keagamaan dan tidak berbenturan satu sama
lain.
Berdirinya keenam tempat ibadah tersebut membuktikan bahwa setiap agama memiliki hak untuk beribadah kepada Tuhan atau kepercayaan masing-masing. Meskipun salah satu agama memiliki lebih banyak pengikut dibandingkan agama lain, tetapi tidak boleh mendiskriminasi agama lain.
Kali ini, saya
juga bertanya kepada penjaga perumahan tersebut apakah pernah ada
kejadian yang menyebabkan perselisihan antar umat beragama di sini.
Pihak keamanan menjawab bahwa semenjak dibangun, belum ada konflik yang terjadi atar umat beragama yang mau melaksanakan ibadah ataupun yang lain. Meskipun tanpa pembatas antar tempat ibadah, orang-orang tahu bahwa tidak boleh mengganggu dan harus menghargai agama orang lain.
Disampaikan juga kadang umat agama lain membantu ketika
ada kegiatan yang dilakukan oleh tempat ibadah lain.
Selain mewawancarai satpam, saya juga mewawancarai salah satu pengunjung di sana yang bernama Adam, yang merupakan seseorang yang mampir untuk melakukan ibadah.
Adam mengatakan
bahwa melakukan ibadah di sini membuat suasana lebih adem, sebab selain membangun
tempat ibadah yang menarik perhatian, melihat keenam tempat ibadah saling
berdampingan membuat pemandangan semakin adem karena toleransi dan kerukunan
antar umat beragama adalah hal paling indah.
Bisa disimpulkan bahwa tempat ibadah yang berjejer ini adalah penerapan toleransi beragama yang paling enak di lihat, sebab jarang kita menemui ada tempat ibadah berjejer enam sekaligus. Adanya forum sebagai wadah pengurus pengurus tempat ibadah juga membuktikan meskipun berbeda agama, mereka dapat saling bekerja sama.
Mereka juga mengatur jadwal agar tidak bertabrakan, sehingga membuktikan
mereka saring menghormati ibadah agama lain, sehingga kerukunan semakin terjalin.
Menghargai dan menghormati agama orang lain adalah hal paling indah untuk dilakukan. Ketika kita dapat menerima perbedaan tersebut, hidup akan semakin tentram, sehingga tidak ada perselisihan yang dapat merusak kesatuan bangsa ini. Karena Indonesia sendiri memiliki beragam budaya suku ras dan agama.
Author : Mochamad Ari Saputra (Ilmu Komunikasi,2023)
Editor : Yasmin, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA