Siola, Titik Temu Budaya di Jantung Surabaya

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA — Pernahkah Anda berjalan di sepanjang Jalan Tunjungan dan bertanya-tanya tentang gedung megah bergaya kolonial yang berdiri kokoh di tengah modernitas kota? Gedung Siola adalah jawabannya! Dari markas militer, pusat perbelanjaan legendaris, hingga kini menjadi pusat layanan publik dan budaya, Siola adalah saksi bisu perjalanan sejarah Surabaya.
Sejarah Panjang dan Perubahan Fungsi
Siola adalah salah satu bangunan bersejarah di pusat Kota Surabaya yang telah berdiri sejak masa Hindia Belanda. Awalnya dikenal sebagai Gedung Whiteaway Laidlaw, dinamai sesuai dengan pendirinya, Robert Laidlaw. Pada masanya, gedung ini menjadi pusat perdagangan yang menjual berbagai produk, baik grosir maupun eceran.
Pada tahun 1943, saat kekuasaan Belanda beralih ke Jepang, gedung ini diambil alih oleh pengusaha Jepang dan berganti nama menjadi Chiyoda. Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, gedung ini pun kembali berubah fungsi menjadi markas strategis bagi pejuang Indonesia dalam Pertempuran 10 November 1945.
Memasuki tahun 1960-an, kepemilikan gedung jatuh ke tangan pengusaha lokal dan diberi nama "Siola." Gedung ini menjadi pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya dan merupakan mal pertama di kota ini. Sayangnya, krisis ekonomi pada tahun 1933 membuat aktivitas perdagangan menurun drastis, hingga akhirnya gedung ini ditutup.
Barulah pada tahun 2015, di bawah kepemimpinan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Siola mengalami renovasi besar-besaran dan dihidupkan kembali sebagai Museum Surabaya serta Mall Pelayanan Publik.
Ruang Interaksi Budaya
Kini, Siola bukan hanya tempat bersejarah tetapi juga menjadi ruang edukasi dan interaksi budaya. Museum Surabaya di dalamnya menyimpan berbagai benda bersejarah dan cerita komunitas yang membentuk kota ini, seperti komunitas Tionghoa, Arab, dan Jawa. Tak hanya itu, Siola juga memiliki perpustakaan serta berbagai ruang interaktif yang memperkenalkan budaya Surabaya kepada masyarakat luas.
Diva, seorang mahasiswi yang baru pertama kali mengunjungi Museum Surabaya, berbagi pengalamannya: "Sebagai perantau, saya merasa beruntung bisa belajar tentang sejarah Surabaya di sini. Koleksi museum membawa saya seolah ikut mengalami perjalanan kota ini dari masa ke masa." Sementara Onna, mahasiswi asli Surabaya, merasa bangga, "Sebagai warga lokal, saya senang karena tempat ini memberikan edukasi bagi siapa saja yang ingin memahami Surabaya lebih dalam."
Arsitektur yang Memadukan Masa Lalu dan Kini
Dari luar, Siola tetap mempertahankan arsitektur kolonialnya dengan pilar-pilar tinggi dan jendela besar yang memberikan kesan megah. Namun, saat memasuki gedung, suasananya berubah menjadi modern dengan berbagai ruang interaktif dan pelayanan publik. Lantai pertama menampung Museum Surabaya serta loket layanan pemerintahan yang mempermudah akses masyarakat.
Simbol Lintas Budaya yang Berkelanjutan
Siola kini menjadi simbol komunikasi antarbudaya, tempat di mana nilai-nilai tradisional dan modern berpadu dalam satu ruang. Dengan berbagai fasilitas yang mendukung edukasi dan interaksi budaya, Siola menjadi destinasi penting bagi warga lokal maupun pendatang yang ingin memahami lebih dalam kekayaan sejarah dan budaya Surabaya.
Jadi, kapan terakhir kali Anda mengunjungi Siola? Atau mungkin baru berencana untuk menjelajahinya? Jangan lewatkan kesempatan ini!
***
Penulis: Suci Hajar Isnaeni (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor: Zakariya Putra Soekarno, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA