SITUS TROWULAN : Peninggalan Kerajaan Majapahit

Ikom.fisipol.unesa.ac.id, MOJOKERTO - Trowulan, sebuah kawasan kecil atau kecamatan yang berada di Jawa Timur, lebih tepatnya di Kabupaten Mojokerto. Trowulan menyimpan jejak-jejak megah dari salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia, yaitu Kerajaan Majapahit.
Majapahit sendiri adalah salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, dahulu merupakan pusat perdagangan internasional. Hubungan dagang dengan Tiongkok, India, Arab, hingga Eropa menciptakan interaksi budaya yang tercampur. Di sinilah, di antara reruntuhan kuno, relief batu, dan struktur candi, kita bisa merasakan sisa-sisa kejayaan yang pernah menguasai nusantara pada abad ke-13 hingga ke-15.
Situs Majapahit di Trowulan bukan hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menjadi pusat penelitian dan pariwisata yang menyingkap kehidupan, kebudayaan, dan keahlian arsitektur nenek moyang kita. Melalui jejak yang tertinggal di Trowulan, kita dapat memahami peradaban besar yang menjadi cikal bakal mutakhirnya Indonesia dan masih mempengaruhi identitas bangsa hingga hari ini.
Di seberang Museum Majapahit Trowulan lebih tepatnya di Jl. Pendopo Agung, Nglinguk, Trowulan, Kec. Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur terdapat “Kolam Segaran” yang berfungsi sebagai tempat pembuangan piring maupun alat makan lainnya yang telah digunakan untuk menjamu tamu-tamu raja dari Kerajaan Majapahit.
Juru kunci setempat mengatakan bahwa Kerajaan Majapahit melakukan hal seperti itu hanya untuk menunjukkan kemewahan dari kerajaannya saja terhadap para tamu mereka. Setelah tamu mereka pulang alat makan mereka lainnya yang terbuat dari emas akan diambil lagi oleh para prajuritnya. Sehingga pada saat ekskavasi banyak ditemukan pecahan beling bermotif kuno terbuat dari emas yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit.
Terdapat plang yang berisi 'Larangan menginjak bata kuno' pada tepi Kolam Segaran yang masih orisinil peninggalan Majapahit. Terlihat air di Kolam Segaran sedang asat dikarenakan musim kemarau yang cukup panjang, tetapi ketika air penuh banyak warga melakukan aktivitas memancing di situ.
Tidak hanya Kolam Segaran saja, situs peninggalan Kerajaan Majapahit lainnya juga tersebar di wilayah Trowulan seperti Candi Bajang Ratu. Candi Bajang Ratu adalah gapura atau gerbang dengan arsitektur khas Majapahit yang anggun dan megah.
Candi ini didirikan sebagai bentuk penghormatan atau peringatan atas wafatnya Raja Jayanegara pada tahun 1328. Dalam tradisi Hindu-Buddha, bangunan candi sering kali digunakan sebagai tempat pemuliaan atau penghormatan kepada raja yang telah wafat dan dianggap telah mencapai moksa.
“Candi Bajang Ratu sudah mengalami renovasi dua kali yang pertama pada tahun 1915 dan yang kedua pada tahun 1985 yang sudah dikelola oleh Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Trowulan. Candi Bajang Ratu selalu ramai pengunjung terutama pada akhir pekan mulai dari siswa SD hingga SMA dan juga masyarakat sekitar maupun luar kota yang ingin jalan-jalan sekaligus mengenal sejarah,” ucap Bapak Sugik, juru kunci Candi Bajang Ratu.
Pak Sugik juga mengatakan bahwa Pada tahun 2023 akhir pada saat ekskavasi juga ditemukan penemuan baru di sekitar Candi Bajang Ratu yakni bekas tembok dari gapura Bajang Ratu dan sekarang sudah dipelihara dengan cara memberikan atap agar pondasi dari tembok gapura Bajang Ratu tidak rusak dan keaslian dari batanya tidak hilang.
Hingga pada saat ini masih terasa cross culture atau lintas budaya dari Kerajaan Majapahit di daerah Trowulan, seperti tempat ibadah umat islam yakni Masjid Darul Muttaqin yang terletak Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan yang menggunakan arsitektur hingga ornamen ornamen ciri khas Kerajaan Majapahit, bahkan nama masjid tersebut juga ditulis dengan huruf jawa kuno pada bagian depan masjid.
Masjid ini berlokasi cukup strategis yang tepat berada di pinggir jalan antar provinsi dan menjadi tempat ibadah yang sangat ramai pada waktu sholat juga digunakan sebagai tempat istirahat bagi orang orang yang sedang melakukan perjalanan jauh.
Tidak hanya itu saja, lintas budaya juga sangat terasa pada kampung yang terletak di Kecamatan Trowulan yang merupakan wisata berbasis seni budaya, sejarah, alam dan industri kreatif yang bertempat di Desa Bejijong, Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto, Jawa Timur.
Kampung ini disebut sebagai Kampung Majapahit dikarenakan pada setiap rumah warga yang halaman depannya masih terdapat ruang kosong, akan dimanfaatkan untuk membangun bangunan yang sangat khas seperti peninggalan Majapahit.
Pembangunan desa wisata Kampung Majapahit sendiri dimulai sejak tahun 2015 lalu dan tidak dipungut biaya sepeserpun, jadi warga hanya menyediakan lahan kosong di depan rumah mereka saja. Hingga pada saat ini bangunan-bangunan itu masih terawat dan dengan kekreatifan warga yang menggunakan bangunan tersebut untuk tempat berniaga, sebagai tempat penyimpanan, hingga ada yang difungsikan sebagai mushola pribadi.
Pada era modern seperti sekarang ini, situs-situs hingga simbol dari Kerajaan Majapahit masih diwariskan dan dilestarikan agar tidak pudar kebudayaannya. Meskipun di daerah Trowulan sudah banyak sekali situs-situs peninggalan Majapahit seperti Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, Kolam Segaran dan juga masih banyak lagi, tetapi hingga saat ini belum ditemukan di mana letak Kerajaan Majapahit yang sebenarnya.
Hal tersebut sering dikaitkan dengan mitos kabut di daerah trowulan yang benar adanya setiap hari pada saat menjelang malam hingga pagi hari. Meskipun begitu, dengan banyaknya peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan tersebut dapat menjadikan kita sebagai generasi yang dapat mewariskan dan melestarikan kebudayaan yang telah lama dijaga untuk generasi yang akan datang nantinya.
***
Author : Muhammad Rifqi Izzati Rokhman (Ilmu Komunikasi 2023)
Editor : Dsz, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA