Sumur Jobong: Melestarikan Kearifan Lokal dan Membangun Harmoni Lintas Budaya di Surabaya

ikom.fisipol.unesa.ac.id, - Menjelajahi sejarah Surabaya yang kaya budaya adalah hal menarik untuk diceritakan. Salah satunya adalah Sumur Jobong di Kampung Peneleh, warisan era Majapahit yang mencerminkan tradisi lokal. Sumur ini tidak hanya menjadi sumber air tetapi juga warisan budaya yang kaya nilai sejarah. Kini, Sumur Jobong menjadi ikon objek wisata sejarah yang mengingatkan pentingnya menjaga warisan budaya bagi generasi mendatang.
Kampung Peneleh atau Peneleh Heritage adalah kawasan bersejarah di Surabaya yang menjadi daya tarik wisatawan dan pecinta sejarah. Dikenal sebagai salah kawasan tertua di kota ini, Peneleh menyimpan peninggalan dari era Majapahit hingga kolonial, termasuk makam tokoh bersejarah, bangunan kolonial, dan Sumur Jobong yang berusia ratusan tahun. Kawasan ini menjadi saksi perjalanan peradaban dan warisan budaya yang berharga untuk masa depan.
Jika anda tinggal di Jawa Timur, terutama Surabaya, mungkin nama Sumur Jobong terdengar familiar, di tengah gempuran modernisasi, Surabaya tetap menyimpan jejak kearifan lokal melalui Sumur Jobong, sumur tradisional berbentuk tabung besar dari tanah liat. Sumur ini tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air, tetapi juga menjadi simbol kehidupan sosial dan budaya masyarakat Jawa Timur yang sarat nilai-nilai kebersamaan dan keberlanjutan.
Sumur Jobong dahulu menjadi pusat aktivitas masyarakat, merepresentasikan tradisi gotong royong dalam menggali, membangun, dan merawatnya bersama-sama. Aktivitas mengambil air bukan sekadar rutinitas, melainkan momen penting untuk berinteraksi dan menjalin hubungan.
Tradisi turun-temurun menunjukkan makna sosialnya sebagai simbol kebersamaan. Dalam budaya Jawa, air dari Sumur Jobong dipandang sebagai sumber kesucian dan harmoni. Ritual seperti 'siraman' sering menggunakan airnya karena dipercaya membawa energi positif dan berkah.

Sumur Jobong menjadi saksi interaksi budaya lokal dengan pengaruh luar. Pada masa penjajahan Belanda, teknologi modern mulai bercampur dengan metode tradisional, menciptakan inovasi dalam pembuatan sumur. Penggunaan bahan lokal seperti tanah liat menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap kondisi geografis. Hal ini mencerminkan kearifan lokal yang tetap relevan hingga kini. Tradisi dan inovasi berpadu tanpa menghilangkan identitas budaya.
Sumur Jobong mencerminkan interaksi lintas generasi dalam konteks komunikasi budaya. Nilai-nilai seperti kebersamaan, penghormatan terhadap alam, dan pelestarian tradisi terus diwariskan melalui cerita dan praktik budaya.

Keberadaan sumur ini menjadi simbol identitas lokal di tengah pengaruh globalisasi. Di era modern, Sumur Jobong mengingatkan pentingnya keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Melestarikannya berarti menjaga benda fisik sekaligus nilai luhur, seperti kesederhanaan, kebersamaan, dan penghargaan terhadap budaya.
Sumur Jobong menggambarkan bagaimana budaya lokal dapat mempererat hubungan antarbudaya. Kisah - kisahnya mengajarkan nilai kebersamaan, kerja sama, dan penghormatan terhadap keberagaman. Sebagai simbol komunikasi lintas budaya, Sumur Jobong menjaga tradisi dan memperkuat harmoni sosial. Artefak ini menyimpan nilai relevan yang tetap penting di masa kini. Sumur Jobong menjadi simbol penting dalam hubungan antarbudaya.
Bukan sekadar warisan budaya, tetapi simbol kebersamaan Surabaya, dengan nilai gotong royong dan harmoni alam. Tempat ini mengajarkan pentingnya hubungan lintas generasi dan penghormatan terhadap tradisi. Keberadaannya memperkuat kearifan lokal dan menjalin ikatan antarbudaya. Sumur Jobong menjadi pelajaran berharga dalam menjaga warisan budaya.
Di tengah arus globalisasi yang sering mengikis identitas lokal, Sumur Jobong hadir sebagai pengingat kekayaan budaya yang harus dilestarikan. Melestarikannya berarti menjaga cerita, nilai, dan tradisi yang menguatkan kebersamaan. Sumur Jobong menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menunjukkan bahwa budaya lokal menyimpan pesan universal.
Dengan mengenalnya, kita tak hanya merawat sejarah, tetapi meneguhkan komitmen untuk melestarikan akar budaya. Warisan seperti Sumur Jobong tetap hidup, relevan, dan bermakna untuk generasi mendatang.
***
Author : Jeanette Claudia S. (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor : Nailah, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA