Sunan Ampel sebagai Simbol Akulturasi Budaya dan Perdagangan

ikom.fisipol.unesa.ac.id, Surabaya – Di tengah keramaian pedagang dan peziarah, Sunan Ampel di Surabaya lebih dari sekedar destinasi religi. Kawasan ini mencerminkan perpaduan budaya yang terjalin sejak lama. Sebagai situs bersejarah penting di Jawa Timur, Sunan Ampel tidak hanya tempat ziarah bagi umat Muslim, tetapi juga simpul penting dalam jaringan perdagangan internasional pada masanya.
Terletak strategis dekat Pelabuhan, Sunan Ampel menjadi saksi bisu interaksi perdagangan antara masyarakat lokal dan pedagang dari berbagai belahan dunia, seperti Timur Tengah. Melalui aktivitas perdagangan, ajaran Islam menyebar luas di Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur.
Sunan Ampel, nama lain dari Raden Rahmat, adalah anggota Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa. Masjid Ampel yang didirikan olehnya pada abad ke-15 menjadi pusat dakwah sekaligus simbol akulturasi budaya yang kuat.
Seiring waktu, daerah sekitarnya berkembang menjadi Kampung Arab, di mana komunitas Arab, terutama dari Yaman, menetap dan berbaur dengan komunitas lokal seperti Jawa dan Madura. Komunikasi yang baik menjadi alat penting yang memungkinkan perdagangan dan interaksi lintas budaya berjalan lancar.
Kawasan Sunan Ampel telah menjadi pusat perdagangan dan budaya. Pedagang dari Timur Tengah, terutama Yaman, berperan penting dalam membangun hubungan ekonomi dan budaya di wilayah ini.
Selain berdagang, mereka juga menjalin hubungan erat dengan masyarakat lokal. Kawasan ini tidak hanya menjadi saksi penyebaran agama Islam tetapi juga menjadi pusat pertukaran budaya yang melibatkan berbagai komunitas, seperti Jawa, Madura, Tionghoa, dan Arab.
Masjid Ampel, yang dibangun oleh Sunan Ampel pada abad ke-15, menjadi pusat dari segala aktivitas keagamaan dan budaya di kawasan ini. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah. Tetapi juga tempat pembelajaran agama, pusat dakwah, dan lokasi strategis untuk interaksi lintas budaya.
Para pedagang dari Timur Tengah melihat kawasan ini sebagai tempat yang strategis secara ekonomi dan spiritual. Kampung Arab yang terbentuk di sekitar Masjid Ampel menunjukkan bagaimana komunitas Arab mampu beradaptasi dengan budaya lokal, membawa elemen budaya Timur Tengah tetapi juga mengadopsi tradisi lokal.
Sebaliknya, masyarakat lokal juga menerima pengaruh budaya Arab, terlihat dari gaya pakaian, hingga kuliner. Kawasan Sunan Ampel tidak hanya menjadi tujuan wisata religi, tetapi juga pasar tradisional yang menggambarkan dinamika perdagangan masa lalu.
Para pedagang lokal berdampingan dengan pedagang asal Yaman, Arab, dan India. Dalam suasana pasar yang sibuk, pengunjung dapat menyaksikan pertemuan budaya yang hidup di antara aktivitas jual beli.
Keunikan lain terletak pada arsitektur dan tata ruang. Masjid dan makam Sunan Ampel menjadi magnet utama bagi para peziarah. Berjalan menyusuri gang sempit menuju masjid, peziarah akan melewati deretan kios yang menjual aneka barang dagangan yang unik. Suasananya tidak hanya religius, tetapi juga mencerminkan kehidupan perdagangan yang harmonis.
Saat berkunjung ke kawasan ini, saya bertemu dengan salah satu pedagang kebab asal Yaman yang telah tinggal di Surabaya selama tujuh tahun. Dalam wawancara, ia berbagi pengalamannya ketika pertama kali datang ke Indonesia.
"Awalnya saya kesulitan berkomunikasi karena kendala bahasa, tetapi seiring berjalannya waktu, saya mulai bisa berbahasa Indonesia, bahkan beberapa istilah-istilah dalam bahasa Jawa," ujar pedagang kebab tersebut sambil tersenyum.
Ia menuturkan bahwa keramahan masyarakat lokal menjadi kunci utama yang mempermudah proses adaptasinya. Ia merasa diterima dengan baik oleh warga sekitar, yang tidak segan membantu untuk memahami kebiasaan serta budaya setempat. Keragaman pedagang di kawasan Sunan Ampel semakin mempertegas perannya sebagai pusat interaksi budaya.
Selain pedagang dari Timur Tengah, banyak juga masyarakat lokal, seperti orang Jawa dan Madura, yang turut berjualan di kawasan ini. Mereka menawarkan berbagai barang dagangan mulai dari makanan khas lokal, pakaian tradisional, hingga pernak-pernik religius. Suasana pasar pun menjadi hidup dengan campuran bahasa dan dialek yang beragam, mencerminkan harmonisasi antara berbagai komunitas.
Selain itu, bagi pengunjung yang tertarik mendalami sejarah dan budaya, kawasan Sunan Ampel juga menawarkan pengalaman belajar yang berharga. Di kawasan ini, perdagangan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai budaya, dan tradisi.
Salah satu pengunjung, seorang mahasiswa asal Malang, berbagi pengalamannya tentang kunjungannya ke Sunan Ampel. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap bagaimana perdagangan di kawasan ini mampu menciptakan interaksi budaya yang begitu indah.
“Saya awalnya hanya ingin melihat masjid dan pasar tradisionalnya, tetapi setelah berbincang dengan beberapa pedagang di sini, saya menyadari bahwa kawasan ini adalah contoh nyata bagaimana perdagangan bukan sekadar jual beli. Ada pertukaran nilai, bahasa, bahkan tradisi antara pedagang lokal dan pedagang dari Timur Tengah,” jelasnya.
Pernyataannya menggambarkan bagaimana perdagangan di Sunan Ampel menjadi medium penting dalam membangun hubungan antarbudaya. Interaksi ini tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga memperkaya kehidupan sosial dan budaya masyarakat lokal hingga saat ini.
Kawasan Sunan Ampel terletak di tengah-tengah kota Surabaya yang ramai, namun suasananya berbeda dari hiruk-pikuk perkotaan modern. Begitu memasuki area ini, pengunjung akan disambut oleh jalanan sempit yang dihiasi lampu-lampu tradisional berwarna kuning temaram.
Lalu, di sepanjang jalan menuju Masjid Ampel, kios kios kecil berjejer rapi, memajang berbagai barang dagangan. Ada sajadah beraneka motif, tasbih kayu cendana, hingga parfum khas Timur Tengah yang disimpan dalam botol-botol kaca cantik. Beberapa pedagang memanggil ramah sambil menawarkan barang dagangan mereka. Di tengah keramaian, terdengar suara tawar-menawar antara pembeli dan penjual yang menambah kesan ramai kawasan tersebut.
Saat memasuki area masjid, suasana perlahan berubah menjadi tenang dan khidmat. Bangunan Masjid Ampel berdiri megah dengan arsitektur klasik yang didominasi tiang-tiang besar dan ornamen khas Timur Tengah. Udara di sekitarnya terasa sejuk, membawa ketenangan bagi setiap pengunjung yang datang. Di halaman masjid, terdapat pohon-pohon rindang yang menambah kesejukan dan memberikan nuansa teduh bagi para peziarah yang beristirahat atau berbincang.
Kawasan Sunan Ampel adalah contoh nyata bagaimana perdagangan dapat menjadi jembatan lintas budaya. Komunikasi lintas budaya di kawasan ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbahasa, tetapi juga oleh kesediaan untuk saling memahami nilai dan tradisi masing-masing. Hal ini juga menunjukkan bagaimana perdagangan menjadi salah satu alat untuk memperkuat hubungan lintas budaya.
Para pedagang dari luar negeri, seperti pedagang kebab dari Yaman, membawa kekayaan budaya mereka ke Indonesia, sementara mereka juga mengadopsi unsur-unsur lokal dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, masyarakat lokal yang berjualan di kawasan ini juga mendapatkan manfaat dari kehadiran komunitas internasional, baik dalam bentuk inspirasi kuliner, teknik dagang, hingga nilai-nilai budaya yang mereka pelajari dari interaksi sehari-hari.
Sunan Ampel adalah lebih dari sekadar kawasan religi. Kawasan ini adalah pusat perdagangan, akulturasi budaya, dan interaksi lintas budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad. Kehidupan di kawasan ini mencerminkan keharmonisan antara tradisi lokal dan pengaruh internasional, menjadikannya simbol keberagaman yang hidup.
Dalam hiruk-pikuk pasar dan keramaian masjid yang penuh dengan lantunan doa, Sunan Ampel terus menjadi saksi sejarah bagaimana perbedaan budaya dapat berpadu. Kawasan ini tidak hanya menghubungkan masa lalu dan masa kini, tetapi juga menyatukan berbagai identitas budaya dalam semangat saling menghargai.
***
Author : Mabarroh Aisatul Jannah (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor : Yasmin, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA