Teori Interaksionisme Simbolik Sebagai Dasar Membangun Chemistry dalam Organisasi

ikom.fish.unesa.ac.id―Interaksionisme Simbolik adalah salah satu teori dalam ilmu komunikasi yang berfokus pada cara individu berinteraksi dan menciptakan makna melalui simbol-simbol dalam kehidupan sehari-hari. Dikembangkan oleh George Herbert Mead dan Herbert Blumer, teori ini menekankan bahwa manusia tidak hanya merespons rangsangan fisik tetapi juga makna yang mereka berikan kepada rangsangan tersebut.
Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh orang lain, demikian pula dengan sebaliknya. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran dan maksud dengan cara membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain. Dengan hal itu interaksionisme simbolik dalam ruang lingkup organisasi dapat digunakan untuk membangun chemistry antar anggota, yaitu melahirkan adanya rasa kebersamaan, kepercayaan, dan saling pengertian.
Berikut beberapa penerapannya:
Ciptakan Budaya Organisasi yang Positif
Budaya organisasi yang positif biasanya dapat berupa agenda kegiatan rutin maupun mengadakan struktur perintah yang harus dipatuhi sesuai kesepakatan bersama, di mana jika kita dapat memenuhi segala bentuk peraturan dan mengikuti agenda kegiatan rutin tersebut secara tertib akan berdampak pada hasil kerja yang dilakukan.
Dorong Komunikasi Terbuka dan Efektif
Mempunyai kecakapan sosial yang baik sangatlah penting untuk mengantisipasi adanya rasa takut saat beradaptasi dan bekomunikasi dengan orang baru ataupun orang asing. Komunikasi yang baik menciptakan catatan penilaian yang positif dari setiap lawan bicaranya, sehingga hal ini dapat mempengaruhi sikap selanjutnya.
Bangun Kepercayaan dan Saling Mendukung
Sifat jujur dan amanah harus dimiliki oleh setiap anggota organisasi. Selain itu, penting juga bagi setiap anggota organisasi untuk bersedia menerima kritik maupun menjadi pendengar yang baik untuk anggota lain.
Kelola Konflik secara Efektif
Di setiap organisasi, tentu kita akan seringkali menemukan berbagai wujud permasalahan, sehingga kemampuan manajemen konflik menjadi hal yang sangat diperlukan. Kita harus menjadi sosok yang teguh pendirian dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Pikirkan resiko dari setiap langkah yang dipilih. Setiap keputusan yang diambil harus melibatkan adanya diskusi terbuka yang memungkinkan setiap anggota organisasi untuk bertukar ide atau gagasannya.
Beberapa penerapan tersebut merupakan fokus utama sebuah organisasi sebelum merealisasikan suatu program kerja. Sebagai orientasi, suatu organisasi perlu untuk melakukan pengenalan dari setiap individu di dalamnya guna mengetahui kepribadian masing-masing. Pengenalan merupakan tahapan awal yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang positif dan suportif. Nantinya, hal ini dapat membangun chemistry yang kuat antar setiap anggota, meningkatkan kinerja dan produktivitas individunya, serta menciptakan motivasi diri untuk mencapai visi dari organisasi tersebut. Dengan terbangunnya hubungan yang baik dengan rekan kerja, maka dapat mengurangi kompleksitas suatu organisasi dalam melakukan problem solving.
Referensi:
Suheri (2018). Makna Interaksi Dalam Komunikasi (Teori Interaksi Simbolik dan Teori Konvergensi Simbolik). Al-Hikmah Media Dakwah, Komunikasi, Sosial dan Kebudayaan, 9(2), 52-63, ISSN 2655-0539, IAIN Langsa.
***
Author: Ilham Adhana (PR Apprentice)
Editor: astr, 2024
Cover: Juan (PR Apprentice)
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA